Majalah tabloid Rumah

Inspirasi rumah indah

Atap yang Siap Menyambut Hujan

Atap seperti apa yang paling cocok digunakan di wilayah dengan curah hujan tinggi?

KITA TINGGAL di negara tropis yang setiap tahunnya, selama kurang lebih 6 bulan, mengalami musim hujan. Tentu ini menimbulkan keuntungan tersendiri, di samping masalah-masalah yang membuntutinya, termasuk yang berkaitan dengan hunian. Bicara mengenai hujan, bagian hunian yang pertama kali tersangkut di benak kita pasti atap. Bagian inilah yang terkena terpaan hujan paling banyak, mengingat fungsinya sebagai naungan.

Sejak dahulu kala, nenek moyang kita pun sudah memikirkan solusi apa yang tepat diterapkan pada tempat tinggal mereka, khususnya atap, dalam rangka berdamai dengan hujan. Ini menghasilkan bentuk-bentuk atap dan cara-cara pemasangannya yang unik, khas tropis. Lihat saja atap rumah tradisional kita dari Sabang sampai Merauke. Penutup atap boleh berbedabeda, karena ini berkaitan dengan sumber daya yang terdapat pada masing-masing daerah. Tetapi atap-atap tradisional di Indonesia memiliki beberapa kesamaan berikut:

Kemiringan
Atap-atap rumah tradisional di daerah tropis selalu dibuat dengan kemiringan yang curam, menurut Kuncoro Sukardi (dosen Arsitektur UI). Ini demi mempercepat jatuhnya air hujan ke tanah agar tidak sempat merembes masuk ke dalam rumah. Kemiringan yang curam ini masih berlaku pada bangunan modern, khususnya rumah, walaupun karena perkembangan teknologi dan pengaruh kebudayaan asing, kini banyak juga bangunan menggunakan atap datar.

Pelana dan Perisai
Curamnya kemiringan atap menghasilkan bentuk atap yang memiliki nok pada rumah-rumah tradisional di Indonesia. Bentuk yang banyak digunakan adalah bentuk pelana. Menurut Kuncoro, bentuk pelana ini kemudian berkembang menjadi bentuk perisai, seperti tampak pada rumah tradisional Batak Karo atau rumah Joglo. Ini akibat adanya pengaturan ruang tradisional yang menempatkan sebuah ruang sebagai pusat kegiatan di rumah, sehingga atapnya pun harus memiliki pusat.

Teritisan Lebar
Hujan yang disertai angin membuat air hujan masuk ke rumah, atau yang biasa disebut tampias. Solusinya, dibuatlah teritisan atap yang lebar agar air hujan yang jatuh dari tepi atap tidak sempat “mampir” ke dalam rumah. Di ujung teritisan, saat ini banyak dipasangi talang yang fungsinya mengarahkan jatuhnya air hujan dari atap.

Bahan Berlapis
Rumah-rumah tradisional ditutup dengan bahan-bahan yang diperoleh di sekitarnya. Namun, tetap ada pertimbangan pemilihan bahan penutup atap yang berkaitan dengan musim hujan. Bahan atap biasanya terbuat dari serat, seperti jerami, ijuk, atau rumbia. “Saat pemasangan, bahan ini dilapis berkali-kali hingga mencapai ketebalan tertentu,” jelas Kuncoro. Ini dimaksudkan agar ketika jatuh, air hujan tidak sempat mengalir ke lapisan terdalam yang mengakibatkan bocor.
SAAT INI pilihan bahan penutup atap sudah sangat beragam, mulai dari tanah liat sampai serat sintetis. Penutup atap yang banyak digunakan pada hunian saat ini adalah jenis genteng, baik dari tanah liat, beton, atau metal. Kemudian ada juga jenis lembaran, seperti asbes atau seng gelombang, dan jenis sirap, baik dari kayu maupun serat sintetis.
Bahan asbes saat ini sudah dilarang digunakan untuk hunian karena dapat mengganggu kesehatan. Asbes yang sudah lapuk, serabutnya akan beterbangan dan bisa masuk ke saluran pernapasan.

Genteng
Merupakan penutup atap berupa lempengan-lempengan yang disusun sedemikian rupa di atas rangka kayu. Berukuran sekitar 30 cm x 30 cm, genteng bisa terbuat dari keramik, beton, atau metal. Genteng metal kurang cocok digunakan pada hunian dan lebih banyak digunakan pada bangunan pabrik atau gudang. Ini karena bahan metal menimbulkan panas pada ruang dan berisik jika tertimpa air hujan. Saat pemasangan, kemiringan atap yang dilapisi genteng adalah 300. Untuk kemiringan lebih besar dari itu, genteng harus dipaku ke kayu penyangganya (reng) agar tidak merosot.
Di iklim yang murah hujan seperti Indonesia, genteng keramik merupakan bahan pelapis atap yang paling handal. Keramik ini merupakan sebutan untuk bahan tanah liat yang dibakar. Bahan ini tidak tembus air dan karena bukan merupakan bahan campuran, muaisusutnya seragam, sehingga tidak mudah retak. Genteng keramik tahan lebih dari 20 tahun. Di saat panas, genteng keramik juga berfungsi sebagai peredam panas matahari, sehingga ruang di dalamnya tetap sejuk.
Genteng beton umurnya lebih pendek daripada genteng keramik, karena bahan dasarnya adalah pasir dan semen.
Campuran dua bahan yang muai-susutnya berbeda ini menyebabkan kemungkinan retak pada beton lebih besar. Retak inilah yang menjadi sumber bocor di kala hujan. Menurut Sofian Wangsa (direktur PT Arconna Graha Utama, konsultan arsitektur dan kontraktor) umur beton diperkirakan 6 sampai 7 tahun, sementara jika dilapisi glazur, genteng beton bisa bertahan sampai 8 tahun.

Sirap
Saat ini atap sirap berbahan tradisional memang sudah jarang dibuat, antara lain karena bahan bakunya sulit dicari dan mahal. Sirap yang biasanya berupa potongan potongan kayu ulin atau jati tersebut disusun berlapis 3 atau 4. Saat pemasangan, potongan kayu ini dipakukan ke lapisan multipleks yang melapisi seluruh rangka atap. Kemiringan atap yang disyaratkan untuk pemasangan sirap adalah 300.
Atap sirap kini mulai digunakan kembali, tetapi menggunakan bahan yang berbeda, yaitu fiber cement. Karena merupakan bahan fabrikasi sampai ke jurai dan nok-nya, hasil akhir atap sirap fiber cement ini bisa sangat rapi. Sambungan-sambungannya pun lebih sukar dilewati air hujan. Namun, harga atap ini agak mahal.
Selain yang berbahan serat, tersedia juga atap sirap dari bahan bitumen yang dilapisi pasir dan butiran keramik. Butiran keramik ini gunanya untuk melindungi atap dari paparan sinar ultra-violet dan memberi warna pada atap. Bahan penutup atap ini ringan dan lentur tetapi umurnya tidak terlalu panjang karena bahannya cepat aus.
Saat hujan turun, atap sirap cukup mampu menahan masuknya air hujan ke dalam rumah berkat lapisan multipleks di bawahnya. Tetapi, lapisan multipleks tersebut lama-kelamaan bisa lapuk dan mengakibatkan bocor. Jika ini yang terjadi, perbaikan atap sirap lebih sulit dilakukan dibandingkan atap genteng, karena harus dilakukan penggantian secara menyeluruh.
PEMILIHAN BENTUK dan bahan atap tentu berpulang kepada masingmasing pemilik rumah, karena pemilihan ini juga terkait dengan biaya dan selera. Namun, ada baiknya dalam memilih atap Anda mempertimbangkan kembali bahwa Anda hidup di daerah tropis, di mana hujan menjadi masalah besar buat atap. Nah, sudahkah atap rumah Anda siap menyambut datangnya musim hujan?

Tip
Menurut Kuncoro Sukardi (dosen Arsitektur UI), fungsi talang bukan saja untuk “merapikan” aliran air hujan dari atap, tetapi bisa juga membantu melestarikan air tanah. Air hujan yang ditampung oleh talang dialirkan ke bak kontrol. Dari bak ini dibuatkan saluran untuk mengalirkan air ke sumur resapan di bawah tanah. Dengan demikian, persediaan air tanah di sekitar rumah tetap terjaga sepanjang waktu dengan cara mudah dan murah.

7 November 2008 Posted by | Atap, genting, musim hujan | | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.